“Kau cukup tampan dengan rambut hitam barumu,
Chanyeol!” Lelaki bernama Chanyeol yang sebelumnya berambut pirang berdecak
kagum memuji tampilannya yang terpantul dicermin kamar pribadinya yang luas
seraya mengelus alis hitamnya dengan telunjuk.
Dengan pakaian sweater gradasi biru kehitaman, celana jins
berwarna senada, syal biru berajut dan sunglasses yang telah ditenggerkan rapi
dihidung mancungnya, Chanyeol telah bersiap untuk pergi dari Jepang menuju
negara gingseng, yang mana bandara Incheon telah menunggunya.
Setelah menempuh perjalanan yang membosankan didalam pesawat,
Chanyeol telah tiba di bandara Incheon tujuannya, ia menggeret koper ber-merk miliknya untuk segera menaiki angkutan
taxi yang banyak tersedia berjajar diluar bandara.
Ditengah perjalanan dalam taxi, Chanyeol menikmati pemandangan
kota Seoul dari balik kaca jendela, sudah sejak lama ia tak mengijakkan kakinya
di negara kelahirannya karna sang ayah dan ibu pindah ke Jepang untuk
melanjutkan bisnis yang otomatis dirinya juga ikut serta pindah.
Chanyeol teringat jika ia harus memberi kabar kepada ‘seseorang’,
jadi ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan langsung menghubungi orang
itu. “Annyeonghaseyo, Byun Ahjumma!” dalam
hati Chanyeol merasa bersyukur jika ia masih ingat logat Korean dengan baik. “Aku akan segera sampai kerumahmu, Byun Ahjumma, tunggu aku ‘ya!”.
Sebenarnya, jauh sebulan lalu Chanyeol berencana untuk menginap
dirumah orang lain, ia nekat menghubungi sebuah nomor yang ia dapatkan dari
internet untuk jasa ‘Home Stay’ di
negara Korea agar ia bisa menginap beberapa minggu disana. Akhirnya ia bisa
tinggal dirumah Bibi Byun dengan harga yang sudah saling disepakati. Sebenarnya
juga ia bosan berada dirumahnya yang berada di Jepang.
H
Pukul 14.00 siang, Chanyeol telah tiba didepan sebuah pintu berwarna
putih bernomor 48, dia masih mencoba mencocokkan alamat yang ia tulis pada secarik
kertas dengan rumah yang sedang ia injak terasnya.
“Hmm... jalan Manggis, Perum Matahari, Nomor 48.” Chanyeol merasa
dirinya tak salah rumah, “Jadi ini rumah bibi Byun!” Chanyeol menggebu semangat
menekan tombol bel disamping pintu, tak sabar karna ia akan bertemu dengan Bibi
Byun yang terdengar ramah sewaktu mereka ada waktu untuk saling mengobrol
ditelepon.
Ting tong! Ting tong!
Tak lama pintu terbuka, menampilkan sosok wanita cantik walau
sebenarnya wanita itu berusia sekitar setengah abad. “Nde? Nuguseyo?” wajah wanita itu nampak bertanya-tanya.
“Konnichiwa! Bibi Byun?”
Chanyeol membungkuk hormat kemudian melepas kacamatanya yang kemudian membuat
wanita tua itu teringat akan wajah seseorang yang pernah ia lihat diinternet.
“Eoh! Chanyeol?!” ya...
wajah inilah yang menyewa satu kamar dirumahnya untuk ‘Home Stay’.
“Annyeonghaseyo, bibi
Byun! Aaah senangnya bertemu denganmu.” Dengan sok akrab Chanyeol memeluk
wanita bermarga Byun tersebut.
“Ah, sama-sama anak muda, ayo masuk.” Bibi Byun mempersilahkan
Chanyeol yang nampak bahagia untuk masuk kedalam rumahnya yang sederhana namun
juga berkesan modern.
Begitu masuk dengan menggeret kopernya Chanyeol menghirup
dalam-dalam aroma rumah bibi Byun yang sewangi bunga lavender, membuatnya merasa tenang sekaligus nyaman dan suasana
putih diseluruh ruangan turut mendukung.
“Nah, Chanyeol, sebaiknya kau istirahat saja dulu, menempuh
perjalan jauh pasti capek. Kamarmu ada di lantai dua, mari bibi antar.” Bibi
Byun mendorong pelan punggung Chanyeol
menuju tangga didekat dapur dan ruang makan.
“Terimakasih, bibi, kau memang pengertian hehe, tapi aku orang
yang tidak bisa tidur siang.” Bibi Byun mengelengkan kepalanya, walau capek
naik pesawat anak ini masih mampu tidak tidur siang.
“Yasudah letakkan dulu barang-barangmu kekamar lalu turun untuk
makan siang, Arrachi?” Chanyeol menggangguk sebelum bibi Byun pergi ke dapur.
H
Dilantai 2 Chanyeol kebingungan, pasalnya disini ada 2 pintu kamar
dengan warna yang sama putihnya. Sepertinya Bibi Byun lupa memberitahu yang
mana kamarnya, karna tak ingin banyak merepotkan sang pemilik rumah hanya untuk
bertanya lebih baik ia pastikan sendiri kamar dibalik masing-masing pintu
tersebut.
Chanyeol membuka pintu disebelah kiri terlebih dahulu yang
ternyata tak terkunci. Apa yang dilihat Chanyeol dalam kamar itu sungguh
mengejutkan matanya, banyak macam poster girlband
bertulis ‘Girls Generation’ tertempel
dimana-mana pada dinding, tak hanya itu, kamar tersebut nampak kotor dengan
banyaknya benda berserakan dilantai, entah itu buku, sepatu yang hanya tinggal sebelah,
kaos kaki dekil berlubang yang menggantung di ranjang, dan lebih mengejutkan
lagi ketika matanya mendapati sebuah celana dalam hitam berpolkadot putih entah
milik siapa digelantungkan di tiang jendela.
Sungguh ini kamar terjorok terkotor terbau yang pernah ia lihat
dan rasakan, walau dia lelaki dia tak pernah sejorok ini. Siapapun pemilik
kamar ini sungguh jorok, pikirnya.
Karna tak betah walau hanya dengan melihatnya saja Chanyeol
beralih pada pintu lain disebelah. Untunglah tidak seburuk kamar yang satunya.
Kamar yang ini cukup rapi, terrdapat kasur berukuran Queen ber-seprai tokoh kartun Disney
Mickey Mouse jadi Chanyeol segera masuk dan mengkalim bahwa yang ini adalah
kamarnya.
Setelah menata bajunya pada almari berkayu jati dan Chanyeol mengganti
pakaiannya dengan kaos bergambar pisang buah kesukaannya berikut celana longgar
selutut berwana kuning seperti pisang dibajunya, ia segera turun memenuhi
amanat bibi Byun untuk makan siang.
H
Baekhyun anak tunggal dari bibi Byun telah berpulang dari sekolah terheran
ketika melihat sepatu hitam mengkilat khas milik pria terletak rapi diteras
rumahnya. Itu tidak mungkin milik ayahnya, ‘kan ayahnya telah meninggal enam
bulan lau karna kecelakaan, lalu siapa
pemilik sepatu ini? Atau jangan-jangan... calon suami ibunya?! Oh! Ibunya tak
cerita akan hal ini sebelumnya.
Fikiran negatif itu membuat Baekhyun berlari tanpa mengetuk pintu
dan masih memakai sepatu untuk mencari ibunya dan bertanya kejelasan adanya
sepatu pria diterasnya. Sosok ibunya ia temukan tengah asik memasak didapur,
ibunya tersadar akan kehadiran seseorang mengetahui bahwa seseorang itu adalah
Baekhyun, dengan manja si ibu itu merentangkan kedua tangannya menyambut
Baekhyun sepulang sekolah.
“Ah, putraku yang manis sudah datang, kem—“
Menghiraukan sambutan ceria ibunya, Baekhyun mendekat kemudian
mencekal kedua pergelan tangan ibunya, matanya serius menatap wajah ibunya yang
terheran akan perlakuan curiga Baekhyun,
“Bu, siapa pemilik sepatu ditera—“
“Bibi, masak apaaaa~?” suara rendah memutus kalimat tanya
Baekhyun.
Itu suara Chanyeol yang sedang menuruni tangga dan matanya
berbinar ketika melihat seorang bertubuh kecil bersama bibi Byun, Ah apa ‘ini’ anak bibi Byun?!
Baekhyun terheran melihat sosok tinggi tak dikenalnya menuruni
tangga rumah, siapa gerangan lelaki yang sedang tersenyum layaknya idiot itu? Tidak
mungkin orang bertampang gila tersebut adalah suami baru ibunya, lagipula
wajahnya terlihat masih muda, tidak mungkin ibunya menjadi Phedophil!. Oh.. apa jangan-jangan ibunya...!
Baekhyun menatap sebal ke ibunya, “Bu! Jangan bilang kalau dia
adalah—“ cengiran ibunya sudah cukup menjelaskan jika lelaki itu adalah...
“Kau sepertinya benar Baekki! Dia adalah orang yang menginap
beberapa minggu kedepan di rumah kita! Kau tau istilah ‘Home Stay’ ‘kan?” sang ibu menatap senang kearah Baekhyun.
Ternyata benar dugaannya, bahwa ibunya kembali kumat sejak setahun
lalu dengan menyewakan sebuah kamar kosong disamping kamarnya untuk dijadikan
tempat layaknya kost-kost-an!
Alasannya ‘sih untuk mencari uang tambahan. OMG HELLO~!, dasar Eomma tak berperasaan. Padahal ibunya
tahu jika ia tak begitu menyukai orang
asing, apalagi tinggal seatap! BIG NO!
Sudah cukup pengalaman setahun lalu dengan adanya orang aneh yang
menyewa satu kamar disini yang ternyata adalah orang incaran polisi karna orang
tersebut sering melakukan pencurian, untungnya kasus orang itu telah diketahui
lebih cepat dan dipenjarakan. Baekhyun bersyukur orang itu hanya tinggal dua
hari saja. Kembali ibunya nekat menyewakan satu kamar kosong diatas untuk
seseorang tak dikenal. Tetapi bibi Byun tidak merasa curiga sedikitpun dengan
Chanyeol siwajah cerah. Hooo! Baiklah terserah ibunya saja! Yang penting ia tak
mau berurusan dengan orang asing. Itu tanggung jawab ibunya. Biarkan saja,
Baekhyun tak perduli.
“Ahh! Park Chanyeol! Kemari!” ibunya berlari riang kearah Chanyeol
membuat cengkraman Baekhyun terlepas begitu saja. Ibunya membawa Chanyeol
mendekat dan melihat lebih jelas wajah Baekhyun yang ternyata lebih manis jika
dilihat dari jarak dekat.
“Dia anakku. Namanya Baekhyun. Dia manis ‘kan?” Bibi Byun bertepuk
tangan kecil memamerkan seolah anaknya ini adalah anjing kecil yang imut.
Chanyeol setuju dengan itu, anaknya bernama Baekhyun ini manis sekalii
>_< ungkyaa!
Chanyeol mencubit pelan pipi gembul Baekhyun, yang dicubit
menyingkirkan kasar tangan sok akrab itu, ‘sembarangan
menyentuhku!’. Chanyeol merasa tertegun melihat kemanisan wajah sebal
Baekhyun, “Aigoo~! Yeppeuna~.” Maka dari itu Chanyeol tak
dapat menahan tangannya untuk memeluk Baekhyun dan mengoyang-goyangkan tubuhnya
kekiri kekanan, sedangkan yang dipeluk berusaha melepaskan diri secara paksa.
“Ya! Sembarangan sekali kau bilang aku ‘Yeppeuna~’, Aissh! kau
pikir aku perempuan?!” Baekhyun berucap sebal dan meniru suara idiot Chanyeol
dibagian yeppeuna~. Bibi Byun
menghela nafas atas sikap kasar anaknya yang terlalu sering kambuh, untungnya
pemuda bernama Chanyeol tak menunjukkan reaksi tersinggung atas umpatan
Baekhyun, malahan nampak bahagia-bahagia saja diperlakukan seperti itu.
“Baekhyun! jaga kesopananmu!”
“Dia yang terlebih dahulu tak sopan padaku, bu.” Baekhyun
mendengus melipat tangannya didepan perut setelah dirinya berhasil melepas
paksa pelukan dahsyat dari Chanyeol.
“Hoooaaa! Apa itu samgyeopsal?!”
tanpa mempedulikan dengusan Baekhyun, Chanyeol bertanya gembira pada bibi Byun
ketika melihat makanan favoritnya diatas
meja makan, sudah sejak lama makanan favoritnya tersebut tak tersentuh
dilidahnya.
“Iya benar. Ayo kita makan~!” Bibi Byun pun juga tak mempedulikan
dengusan anaknya dan malah duduk diruang makan bersiap untuk menyantap makanan
diatas meja disusul oleh Chanyeol.
Melihat Baekhyun yang masih berdiri ditempat, Chanyeol menegurnya,
“Hey, Baekhyun-ah, ayo makan.”
Baekhyun-ah,
katanya? Cih, sok kenal sekali makhuk itu, batin Baekhyun
kesal.
“Bagaimana aku bisa makan jika tempat dudukku kau dudukki?,
minggir sana.” tangan Baekhyun berisyarat agar Chanyeol pergi dari kursinya
atau sekalian saja pergi dari rumah ini.
“Baekhyun, bersikap yang baik! aku tak mengajarimu begitu, loh. Cuci
tangan dulu kemudian duduk dan makan dengan tenang.” Bibi Byun berkata tenang
sambil mengambilkan nasi diatas piring Chanyeol dan Baekhyun.
Setelah Chanyeol menyingkirkan bokongnya ke kursi samping tempat
duduk milik Baekhyun, lelaki yang masih ditingkat SMA 2 (Baekhyun) itu mendudukan pantatnya disana setelah
mencuci tangannya dan melepas sepatu berserta kaos kakinya.
Piring telah diletakkan di hadapan masing-masing oleh bibi Byun,
Chanyeol tersenyum berterimakasih atas itu. “Selamat makaaaann~!” ucap Chanyeol
heboh membuat bibi Byun terkekeh melihat tingkah konyol pemuda itu, dan Baekhyun
disana menggerutu tak jelas akan kebrisikan yang dibuat Chanyeol.
“Tinggal makan saja kenapa harus dengan berteriak seperti itu?
Kekanakan!” gumam Baekhyun diselah kunyahan nasi+daging ayam favoritnya.
“Oyah Chanyeol-ah, apa kamu masih sekolah? Berapa umurmu?” Bibi
Byun membuka obrolan makan siang.
“Aku sudah lulus SMA tahun lalu, umurku delapan belas tahun.” Kata
Chanyeol santai sembari memakan samgyeopsal-nya
.
Uhuk! Uhuk!
Baekhyun tersendak ayamnya ketika mendengar bahwa diusia 18
Chanyeol lulus SMA, seencer apa otak
makhluk itu?!.
Baekhyun menyahut segelas air yang disuguhkan dengan baik oleh Chanyeol
kepadanya. Menegukknya hingga daging ayam yang menyangkut ketenggorokannya
segera turun kedalam pencernaan.
“Kenapa?” Tanya Chanyeol khawatir.
“Kekanakan sekali, sudah besar masih bisa tersedak.” Bibi Byun
berucap santai memakan makanannanya.
“Tidak kenapa-kenapa! Hanya tiba-tiba saja tersedak.” Baekhyun
melanjutkan makannya, sebelumnya ia melemparkan pandangan kesal keibunya yang
masih konsentrasi pada makanan. Tersedak
tak mengenal umur, Bu! Semua orang bisa saja tersedak. Batin Baekhyun
sebal.
H
Kring! Kring!
Kring! Kring! Kring! Kring!
Suara berisik dari alarm berbentuk ayam diatas nakas samping kasurnya
membuat Baekhyun terusik dari tidur, tangannya meraba-raba untuk mematikan alarm tersebut, ia cukup lelah karna semalaman
kemarin membersihkan kamarnya yang seperti kapal pecah.
Mata Baekhyun yang tadinya terasa berat untuk terbuka kini
melototkan matanya setelah ia berhasil menggapai alarm tersebut yang tertera
angka 06:15, oh tidak, bisa telat jika ia tak segera berangkat sekolah. “Mwo!? Aissh!” secepat cahaya Baekhyun
melesat ke kamar mandi dilantai satu dengan membawa handuk yang ia ambil dari
balik pintu kamar.
Drap!
Drap! Drap! Drap!
Terkejut mendengar suara berat langkah kaki yang tergesa menuruni
tangga nyaris membuat bibi Byun memotong jarinya sendiri saat sedang memotong
wortel untuk sarapan pagi ini dengan soup.
“Ya! Ibu kenapa tak membangunkanku ‘sih?” Sambil berlari menuju
kamar mandi dikanan tangga Baekhyun berucap kesal menyalahkan ibunya saat ia
mendapati ibunya di dapur. Bibi Byun menjadi kesal setelah Baekhyun
membuatnya terkejut dan kemudian menyalahkannya, wanita itu mengehela nafas
cepat atas tingkah putranya.
Baekhyun tergesa membuka pintu kamar mandi, mengunci pintunya
kemudian melepas semua bajunya awut-awutan dan kemudian dilempar asal
kekeranjang pakaian kotor dekat pintu. Setelah bertelanjang tanpa sehelai
benang Baekhyun segera masuk kedalam bathup.
Tubuh Baekhyun membatu seketika saat dirinya membukai tirai
jendela anti air tempat bathup berada.
Ia mendapati sosok lain yang sama bertelanjangnya tengah asik berendam santai
disana, “Gyaaaaaaaaaaaaaaaahh!!” Baekhyun tak dapat menahan keterkejutannya, bibi
Byun juga turut terkejut mendengar teriakan maut Baekhyun dari dapur. Ia lupa
jika penghuni baru rumah ini sedang mandi.
Chanyeol sosok yang tengah berendam santai menoleh kaget kesumber
jeritan suara memekik disampingya. Chanyeol tak bisa lebih merasa terkejut lagi
ketika mendapati tubuh tanpa baju milik Baekhyun dan wajah Baekhyun kaku
memerah seperti tomat, “Ah, Baekhyun!” reflek Chanyeol berdiri dari bathup, membuat airnya tumpah kebawah,
tak sadar jika ia memperlihatkan seluruh keadaan tubuh polosnya dihadapan
Baekhyun yang terlihat ingin kejang-kejang ketika matanya tak sengaja menatap
tubuh bagian bawah Chanyeol, “Mau mandi bersama?” tawar Chanyeol kemudian
dengan baik hati.
“Asdfghjkl!!” Oh, tidaaakkk! Tubuhnya yang tanpa sehelai benang
telah terlihat oleh mata lain, apalagi mata lain itu adalah mata milik Chanyeol
yang wajahnya sekarang jadi ikut merah. Mengingat itu adalah Chanyeol si orang
asing membuatnya malu dan segera siap untuk pingsan sekarang juga.
Brukk!
Tubuh telanjang Baekhyun ambruk terjungkal kebelakang diatas lembabnya lantai
kamar mandi, dengan khawatir Chanyeol turun dari bathup dan menghampiri
Baekhyun.
“Baekhyun-ah!” Chanyeol memangku kepala Baekhyun pada pahanya,
wajah Chanyeol yang basah nampak sangat khawatir memandang Baekhyun. Itu membuat
Baekhyun yang masih tersisa kesadarannya melotot horror merasa lebih malu lagi,
dalam jarak dekat begini ia malah jadi lebih jelas melihat tubuh telanjang
Chanyeol begitu juga sebaliknya dan kemudian kesadarannya benar-benar menjauh.
H
Baekhyun telah bersiap dengan seragam sekolahnya, ia duduk tenang
dikursi makannya menyantap roti selai stroberry, ia tak sempat memakan soup
ibunya dan mencoba melupakan kejadian memalukan dikamar mandi beberapa menit
yang lalu.
Chanyeol turun menuruni tangga dan menghampiri meja makan,
Baekhyun tahu itu dan ia berusaha tak menatap wajah bercengir itu, tentu saja
ia masih malu. Kemudian Chanyeol duduk didepan Baekhyun dan mengambil selembar
roti selai cokelat diatas meja, “Baekhyun-ah, kau kenapa? Wajahmu terlihat
merah, kau sakit?” Tanya Chanyeol khawatir setelah memperhatikan wajah Baekhyun
sejak ia turun tangga tadi.
Baekhyun diam masih mengunyah rotinya tak berniat menjawab bahwa
sebenarnya wajahnya merah bukan karna sakit. “Ya! Kau kenapa?” wajah Chanyeol mendekat
membuat wajah Baekhyun terpaksa diangkat
dan ia tersedak ketika melihat bahwa Chanyeol menggunakan seragam yang
sama seperti dirinya.
Uhuk! Uhuk!
Baekhyun meminum susu strawberry yang disediakan ibunya diatas
meja tadi, “Kau bohong tentang kelulusanmu diumur 18?!” Baekhyun bertanya
sedikit mengalihkan pertanyaan Chanyeol tadi.
“Aku tidak bohong. Aku hanya ingin kesekolah yang sama denganmu,
kita sekelas! hehe. Kemarin malam aku membeli seragam ini kemarin malam bersama
ibu ‘kita’, loh!” Baekhyun melongo
mendengar kata ‘ibu kita’, sejak kapan ia punya saudara menggelikan
seperti Chanyeol?
“Bodoh! Yang lain ingin
cepat lulus tapi orang ini ingin kembali sekolah. Terserahlah! Sesuka hatinya
saja!” Gumam Baekhyun.
“Ohh.” Jawab Baekhyun tak peduli dan bangkit dari kursi untuk
segera berangkat.
“Bu... aku berangkat!” teriak Baekhyun pada ibunya yang sedang
dilantai dua.
“Aku juga, bu!” Chanyeol ikut bangkit dan turut berteriak,
Baekhyun tak dapat menyembunyikan kekesalan diwajahnya ketika Chanyeol menyebut
ibunya dengan sebutan yang sama. Dasar
sok dekaaatt!
“Iya, kalian hati-hati dijalan ya. Yang rukun! Ibu sedang
bersih-bersih disini.”
“Annyeong!” Ucap
Chanyeol riang sambil berlari kecil menyusul Baekhyun yang lebih dulu berjalan
kepintu.
H
Dalam perjalanan berjalan kaki menuju halte bus, keberisikan
Chanyeol bercerita tentang sekolahnya di Jepang membuat Baekhyun pusing sendiri
dan mengiraukan Chanyeol untuk bercerita monolog.
Baekhyun berjalan selangkah ke depan meninggalkan Chanyeol dibelakang yang
masih saja nyerocos tak jelas ditelinganya. “Dulu, waktu aku bersekolah di
Jepang para muridnya sangat baik padaku, sekolahnya juga bagus, emm bukan
bermaksud pamer ‘sih, dan lagi dikantin ada makanan kesukaanku... bla bla bla”
Baekhyun melihat sebuah bus jurusan sekolahnya melintas
melewatinya, oh tidak! Ia ketinggalan bis, jadi ia berlari mengejar bus
tersebut. Chanyeol terkejut melihat Baekhyun berlari dari arah mereka melangkah
tadi.
Baekhyun menoleh kebelakang pada Chanyeol yang berlari menyusulnya,
“Bisnya! Aku ketinggalan. Cepat lari kalau kau masih ingin sekolah!”
Chanyeol melotot, “Mwoya!
Bagaimana bisa!” Baekhyun mengiraukan Chanyeol dibelakang sana, ia telah hampir
mencapai pintu belakang bis yang terbuka.
Dengan usaha nekat luar biasa, akhirnya Baekhyun berhasil menaiki
bus yang langsung dapat tatapan tercengang heran bercampur salut (atas kelakuan
Baekhyun yang terbilang nekat tadi) dari para penumpang bus.
Baekhyun menghela nafas lega dan mencari tempat kosong untuk ia
duduki. Setelah mendapat duduk dekat jendela Baekhyun menghempaskan bokongnya
disana. Tiba-tiba Baekhyun merasa ada yang janggal.
Duk!... duk!
Suara pukulan dibadan bis tepat disampingnya membuat Baekhyun
menoleh penasaran kebawah karna bis ini lumayan tinggi.
Jreng! Jreng!
Baekhyun kaget, pantas saja ia merasa janggal, dibawah sana,
Chanyeol berkeringat berusaha lari mengejar bus sambil mengetuk-ngetuk badan
bus. Ini pasti karna ia telah terbiasa untuk berangkat sendiri kesekolah. “BAEKHYUUUN!”
teriak Chanyeol berwajah lelah menatapnya yang masih tercengang.
“Ahjussi, berhenti!”
teriak Baekhyun pada sopir setelah ia menyadari bahwa wajah Chanyeol disana
seperti ikan di daratan kehabisan nafas.
CKIIITTT!
Akhirnya penderitaan Chanyeol berhenti ketika bus itu berhenti.
H
Chanyeol meniru Baekhyun membungkukkan badannya was-was dibelakang
sekolah yang nampak sepi. “Pssstt!
Chanyeol! kemari!” suara Baekhyun berbisik kepada Chanyeol dibelakangnya agar lebih
mendekat kearahnya dan juga agar tak ketahuan jika mereka (atau lebih tepatnya
hanya Baekhyun karna Chanyeol tak mengerti mengapa gaya mereka nampak seperti
pencuri) dapat meloncati tembok setinggi badan Chanyeol dibelakang sekolah agar
tak ketahuan jika mereka telah telat masuk (gerbang depan sudah ditutup).
“Nah, Chanyeol berjongkoklah!” suruh Baekhyun ketika mereka tiba
ditempat tembok yang dibaliknya ada sebuah pohon besar yang bisa menyembunyikan
badannya dari para guru yang mungkin saja memergokinya.
“Ha? Kenapa? Harus ya?” Tanya Chanyeol bingung mengapa dia harus
berjongkok? Dia tak mengerti kemauan Baekhyun.
“Sudah menurut saja, cerewet!” Baekhyun mendorong kebawah bahu
Chanyeol membuatnya berjongkok. Sekali lagi Chanyeol bingung, sebenarnya siapa
yang cerewet disini? Yasudahlah menurut saja... Chanyeol pasrah.
“Diam dan jangan goyang sedikitpun.” Baekhyun tanpa banyak bicara
lebuh lagi segera menaiki bahu Chanyeol. Rupanya Baekhyun menjadikan Chanyeol
sebagai tumpuan kakinya untuk memanjat tembok. Dengan kaki pendeknya Baekhyun
berusaha sekuat tenaga naik ke ujung tembok dan akhirnya kakinya berhasil
menapaki tanah lingkungan sekolah. Chanyeol dibawah sana juga berusaha menahan
berat badan Baekhyun yang tidak bisa dibilang enteng.
HUP!
Baekhyun menepuk-nepuk kedua tangannya yang kotor sambil menatap
bangga ketembok karna ia berhasil meloncatinya.
Disana Chanyeol berdiri, melongokkan kepalanya diatas tembok
menatap Baekhyun, “Baekhyun-ah, mundur, aku akan melompat.” Sepertinya ia bisa
melompati tembok ini, ia yakin.
Baekhyun mundur tiga langkah menjauh, memangnya ia bisa loncat
sendiri? Pikir Baekhyun meremehkan Chanyeol.
“Siap!... hana... dul... SET!!” gumam Chanyeol yang telah beberapa
langkah menjauh dari tembok untuk mengambil ancang-ancang dan sedetik kemudian
melesat melompati tembok.
Bruk!
“Huaaaaaaa!” –Chanyeol
“Adaww!” –Baekhyun
Tanpa diduga keduanya, Chanyeol tak sengaja menubruk Baekhyun yang
tadi sedang berdiri menunggu dirinya. Alhasil tubuh besar Chanyeol menimpa diatas
tubuh kecil Baekhyun dengan gaya mereka
yang saling berhadap-hadapan terbaring dirumput hijau halaman belakang sosial.
Baekhyun dibawah dan Chanyeol diatas, mungkin jika ada seseorang melihat pasti
akan salah paham, apalagi hidung mereka nyaris bersentuhan.
Chanyeol menegakkan lengannya agar bisa menatap Baekhyun untuk
memastikan keadaannya. Sedangkan Baekhyun ia merintih sakit pada punggungnya
yang bersentuhan langsung dengan tanah.
“Baekhyun-ah? Gwaenchanha?”
Baekhyun menatap Chanyeol tak sengaja tepat dimatanya. Untuk waktu singkat mereka
saling bertatapan tanpa ada yang bicara, hanyut kedalam mata masing-masing dan
itu membuat keduanya saling terpesona.
Chanyeol terllihat tampan dilihat dari sisi seperti ini...
rambutnya hitamnya jadi turun kebawah.
Apalagi iris mata Chanyeol yang hitam pekat menatap kedalam matanya. Apa yang kau pikirkan Baekhyuuunn?! Batinnya
kesal terhadap dirinya sendiri.
Baekhyun terlihat lebih manis jika dilihat dari sini, poni dan
rambut cokelatnya berantakan diatas tanah, itu... matanya sedang menatapnya
dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Ahh
Baekhyun manis sekali!! Batin Chanyeol gemas.
Baekhyun sadar akan posisi seperti apa ini, jadi ia menyingkirkan
Chanyeol kesamping, bisa gawat jika kepergok seseorang. “Kau memang bisa
melompat, tapi kau payah! Minggir! Badanmu berat tahu!” Baekhyun berdiri
diikuti Chanyeol.
“Maaf Baek.” Chanyeol mengikuti Baekhyun yang berjalan lebih dulu.
“Sudahlah, aku tak apa. Cepat ke kelas sebelum ketahuan guru.“
H
Untung tak ada guru dikelas, jadi Baekhyun dan Chanyeol nyelonong
masuk dan segera duduk. Para warga kelas yang tadinya sibuk dengan kegiatan
masing-masing –begitu ada sosok tampan disamping Baekhyun yang menjadi pusat
perhatian, mereka menjadi lebih berisik dari sebelumnya. Seruan kagum terdengar
mendominasi dimana-mana.
Baekhyun duduk ditempatnya paling belakang dekat jendela, diikuti
Chanyeol menempati bangku kosong disebelah Baekhyun, karna bangkunya single. Sedangkan Baekhyun terlihat tak
begitu peduli dengan keberadaan Chanyeol.
Chanyeol memamerkan senyumnya lebih lagi sejak masuk dipintu
kelas, membuat teriak kekaguman semakin terdengar keras, Baekhyun memutar bola
matanya malas melihat itu.
Choi seongsaenim masuk
kedalam kelas membawa setumpuk kertas hasil ulangan harian kemarin, “Maaf, saya
terlambat... oh ya kabarnya ada murid baru disini, apa dia sudah datang?” Choi songsaenim bertanya santai walau ia
telat, namun tak masalah bagi para murid, justru mereka senang akan hal itu.
Chanyeol yang merasa dirinya adalah murid baru berdiri dan
memperkenalkan diri tanpa dipersilahkan, “Hallo semuanya, aku Chanyeol, murid
pindahan baru dan aku tinggal bersama Baekhyun.” merasa bangga Chanyeol melirik
Baekhyun yang memandangnya dengan tatapan membunuh, sayangnya Chanyeol tidak
takut, anak semanis Baekhyun membunuhnya? Itu konyol. Dan hampir semua tatapan
iri tertuju ke Baekhyun.
“Ah, begitu ya.. baiklah
Chanyeol-ssi kau bisa duduk kembali, dan kalian semua, hasil nilai ulangan kemarin
akan dibagi.”
H
Jam istirahat memberi kesempatan bagi para perempuan dikelas ini
bahkan kelas sebelah berbondong-bondong mengerumuni bangku Chanyeol.
“Mau pergi karaoke bersamaku sepulang sekolah nanti?”
“Ah tidak terimakasih, aku harus pulang segera.” Chanyeol menolak
halus tawaran Song Soo Ra dari kelas sebelah yang terkenal paling cantik
seantero sekolah.
“Chanyeol mau makan bekal ini?” seorang perempuan bernama Kim Mi
Ko menyodorkan bekal buatannya.
“Aniyo, terimakasih aku sudah makan tadi pagi.” Kembali Chanyeol
menolak begitu juga dengan banyak tawaran sela njutnya dari para perempuan.
Sedangkan ditempat duduknya Baekhyun meratapi kertas ulangan matematikanya
berangka merah 40, apa yang ia jawab pada ibunya ketika ibunya bertanya berapa
nilai ulangan kemarin? Hffft, Baekhyun menghela nafas dan beranjak pergi ke
kantin.
Chanyeol melihat Baekhyun keluar pintu, dan dia menyusul Baekhyun
tapi para perempuan itu sedikit menghambatnya untuk pergi.
“Aku harus pergi, Ladies.
Bye!” Chanyeol melenggang pergi diikuti desahan kecewa para penggemar
barunya.
“Baek!” perlu berlari kecil untuk mengejar Baekhyun yang tak
menoleh sedikitpun kebelakang.
“Mau kemana?” Chanyeol bertanya setelah berhasil menyamakan
langkah kakinya bersama Baekhyun.
“Jangan ikuti aku.” Baekhyun masih sedang Bad Mood akan nilainya tadi dan ia ingin sendiri kekantin untuk
mengisi peruntnya yang berteriak minta diisi.
“Aku tidak bisa tidak mengikutimu.” Chanyeol bersikeras tanpa tahu
jika Baekhyun sedang Bad Mood.
Baekhyun memutar bola matanya malas dan melangkah lebih cepat, berniat
meninggalkan Chanyeol, “Terserahmu sajalah!”
H
Sama seperti dikelas dikantinpun banyak yang mencuri pandang ke
arah Chanyeol yang mengekor dibelakang Baekhyun berwajah tak enak dilihat. Sedangkan
Chanyeol tersenyum sok ramah ketiap wajah orang yang dilihatnya membuat dia tak
sengaja menabrak punggung Baekhyun hingga Baekhyun nyaris terjungkal kedepan jika
saja Chanyeol tak sigap melingkarkan lengannya keperut Baekhyun agar tak jatuh
kelantai.
Baekhyun melotot dan masih tercenggang, lengan Chanyeol masih
melingkar diperutnya, wajah Chanyeol terasa begitu dekat dipipinya, mengundang
tatapan sejuta umat dikantin --gratis menyaksikan adegan romantis yang
disajikan Chanyeol terhadap Baekhyun. Semua yang ada disana senyam-senyum tak
jelas atas tragedi so sweet ini.
Pipi Baekhyun merona malu, ini menggelikan, memalukan, menyebalkan
dan... dan... uuhh Baekhyun ingin menendang Chanyeol yang ceroboh untuk ketiga kalinya dihari ini dan ia
tak akan tahan jika kecerobohan Chanyeol selalu berakibat buruk padanya.
Baekhyun cepat melepas tangan Chanyeol, dan beralih menatap sejuta
orang dikantin, “Ya! Apa lihat-lihat!? Ingin matanya tidak bisa melihat ya!?
Urus urusan kalian masing-masing!” Kesebalan Baekhyun disahut oleh seruan;
“HUUUUUUUU!” oleh orang-orang yang ada disana karna kehilangan tontonan gratis
mereka. Nafsu makannya jadi hilang, Baekhyun melengos pergi meninggalkan
Chanyeol yang sejak tadi diam saja.
H
Sejak masuk kelas setelah istirahat hingga mereka dalam perjalanan
pulang sekolah Baekhyun jadi lebih diam tak bicara sepatah katapun walau
Chanyeol mengajak untuk mengobrol. Chanyeol sama sekali tak berpikir bahwa
mungkin saja Baekhyun marah karna kejadian dikantin tadi. Jadi Chanyeol
memutuskan untuk ikut diam saja daripada mengganggu Baekhyun dengan obrolannya.
Baekhyun lebih dulu sampai didepan pintu rumahnya. Chanyeol
melihat bahu Baekhyun lebih menurun ketika sedang memutar kenop pintu.
Sebenarnya kenapa Baekhyun?
“Ibu, aku pulang.” Baekhyun berkata lemas. Berbeda dengan Chanyeol
mengucapkan, “Aku pulaaanng~” dengan riang. Ibu menyambut kedua anak lelaki itu
dengan makanan yang telah tersedia diatas meja. “Segera ganti baju, lepas
sepatu, cuci tangan dan kita makan bersama.”
“Iya.” Sahut Baekhyun dan Chanyeol bebarengan.
Chanyeol telah mengganti baju kaos bergambar anggur ungu segar dan
celana longgar selutut, ia segera turun dan dimeja makan ia hanya mendapati
ibu, ternyata Baekhyun belum turun.
“Chanyeol-ah, ayo duduk.”
“Baekhyun apa aku panggil saja?” tawar Chanyeol perhatian namun
Baekhyun menampakkan wajah cueknya turun dari tangga.
“Nah mari kita mulai makan sorenya.” Ibu bertepuk ria.
“Bagaimana hari pertamamu disekolah Baekhyun, Chanyeol-ah?” ibu
membuka obrolan.
“Saat memasuki sekolah tadi kami lonc—“ Chanyeol menghentikan
kalimatnya karna injakan kuat dikakinya oleh Baekhyun, mengisyaratkan untuk
tidak memberitahu hal itu.
Mengerti maksud tindakan kasar Baekhyun. Chanyeol melanjutkan
kalimatnya sambil menahan kesakitan dikakinya, “Ah, maksudku... tentu saja
menyenangkan, bu.”
“Syukurlah kau suka. Lalu Baekhyun, katanya ulanganmu dibagikan
hari ini, berapa nilaimu?” tanpa disengaja Baekhyun menjatuhkan sendoknya
diatas piring, inilah yang ditakutkannya, ia takut ibunya kecewa atas nilai
yang tak memuaskan.
“Em- empat puluh.” Baekhyun menunduk menjawabnya pelan.
Ibunya sedikit terkejut dan menghela nafas, “Chanyeol, kau maukan nanti
membantu Baekhyun untuk belajar?” ujar ibu Byun sedikit memelas. Baekhyun
mengangkat kepalanya terkejut.
“Tentu saja bu, dengan senang hati.”Chanyeol tersenyum menampakkan
gigi rapinya.
H
“... N2(g) + O2(g) 2NO(g) sekitar
10 % dari NO yang membentuk NO2, yaitu... Apa Baek?” Chanyeol menurunkan
buku IPA milik Baekhyun dari pandangannya, ia bertanya kelanjutan pertanyaan tentang
Oksida Nitrogen kepada Baekhyun yang rupanya menyangga dagunya diatas tangan
dan matanya sayup-sayup mengantuk.
“Ya? Baekhyun-ah?” Chanyeol memastikan bahwa Baekhyun masih
berkonsentrasi pada pembelajarannya, padahal mereka baru memulainya 30 menit
lalu. Baekhyun kebingungan menoleh ke kanan ke kiri dengan wajah kusut karna
mengantuk, “Ah, ya, apa?”
“Tidak ingin mengecewakan
ibu ‘kan?’
“Ah! iya-iya, akau ke kemar mandi sebentar.” Baekhyun menegakkan
tubuhnya mendengar kata kecewa dan ibu jadi ia ke kamar mandi untuk cuci muka
agar tak mengantuk lagi.
“Gen-gen tersusun berderet dalam kromosom. Kromosom dalam sel
tubuh bersipan diploid... bla bla bla.” Sudah 30 menit Chanyeol mengajari ulang
dari awal belajar dengan sabar hingga Baekhyun mengerti penjelasannya.
“Nah, perhatikan contoh berikut.” Chanyeol menunjuk satu contoh
soal pada buku.
“Perbandingan genotipnya adalah F2 + TT : Tt : tt, sekarang coba kau kerjakan
sendiri soal halaman 32 , aku akan menilai kemampuanmu.”
“Nde, songsaenim!” Kalimat
Baekhyun berisi sindiran, namun Chanyeol menghiraukan nada bicara Baekhyun.
Baekhyun mengerjakannya cukup lama sekitar 3 menit, tapi hasilnya
tak sia-sia, ia mendapat nilai 95,5 dari Chanyeol karna ada kesalahan terhadap
penulisannya diakhir hasil. Padahal sebelumnya Baekhyun tak bisa soal persilangan
ini oleh karna itu ia membenci pelajaran tersebut, nilai tertingginya
dipelajaran ini hanya 5.0. Tapi sekarang ada keajaiban yang terjadi pada
otaknya, ia lebih nyambung jika belajar dengan Chanyeol ketimbang guru
disekolah, yah mungkin karna faktor umur mereka yang sama.
Chanyeol turut senang Baekhyun jadi bisa mengerjakan jadi ia
mengajarinya hingga larut malam, mulai dari pelajaran tentang Oksida Nitrogen,
Persilangan, atom, molekul dan ion dalam produk kimia, energi listrik,
rangkaian listrik juga usaha dan energi.
Jam didinding menunjukkan pukul 23:57, disana Baekhyun tertidur
ketika Chanyeol sedang asik menerangkan tentang usaha dan energi.
Chanyeol menghela nafas dan tersenyum melihat wajah polos Baekhyun
yang tengah tidur pulas karna capek belajar, sebab Baekhyun tak terbiasa
belajar dirumah lebih dari dua jam. Segera Chanyeol membersihkan buku yang
berserakan diatas kasur, menatanya menjadi tumpukan diatas meja belajar
Baekhyun.
Karna tak tega membiarkan Baekhyun tertidur membungkukkan setengah
badannya diatas kasur, Chanyeol mengangkatnya untuk tidur lebih nyaman diatas
kasur berseprai kartun Donald Duck. Baekhyun sedikit melenguh dalam tidurnya
ketika Chanyeol memberinya selimut.
“Jalja.” Chanyeol mengecup
kening Baekhyun yang tertutup rambut.
H